Pada tulisan pertama , saya pernah mengatakan bahwa salah satu yang membuat saya memulai blog (kembali) adalah karena Facebok sudah penuh sesak dengan sampah. Eits… tunggu dulu. Saya tidak alergi dengan perbedaan pendapat sehingga saya menyebut pendapat yang berbeda sebagai sampah, yang saya maksud sampah di sini adalah argument yang buruk yang seolah-olah tidak diproduksi oleh manusia yang berpikir, namun dari dari mesin generator kata serupa chapta. Setelah saya amati, ternyata produsen dan konsumen sampah ini bukan orang yang bodoh, beberapa bahkan sanggup menyelesaikan study dalam bidang yang tergolong sulit. Salah satu penyebab dari orang-orang yang tidak bodoh tersebut memproduksi dan atau menkonsumsi sampah adalah ketidakmampuan (ketidakmauan?) berpikir kritis. Setelah iseng googling, ternyata pengamatan saya tersebut tidak keliru-keliru amat. Silakan baca di sana , di sini , atau di situ . Apa itu critical thingking? Banyak definisi critical thingking yang bisa kamu pe...
Judul yang aneh bukan? Tapi saya merasa ini lebih baik daripada saya menggunakan judul TERUNGKAP!! SEKOR…DST. Pada tulisan saya akan membagi pengalaman tentang menjadi seorang editor kebetulan. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang editor (saya memang tidak pernah membayangkan/bercita-cita tentang profesi apa yang akan saya jalani di masa mendatang, terdengar mengerikan bukan? Jangan ditiru! Bercita-citalah). Selain tidak pernah membayangkan menjadi editor, saya memang bukan orang yang melek literasi, buku yang pernah saya baca hanya buku sekolah/kuliah (itu pun menjelang ujian, sekali lagi: jangan ditiru). Menjadi editor bagi saya adalah takdir meskipun saya tidak ditakdirkan menjadi editor. Di tengah kejenuhan pekerjaan di salah satu perusahaan telekomunikasi, saya chatting dengan teman, sebut saja Erix, singkat cerita tempat dia bekerja sedang membutuhkan beberapa editor dan saya pun tergoda untuk mencari tantangan suasana baru k...